Romance of Three Kingdoms: para panglima Cao Cao

Dalam cerita Romance of Three Kingdoms kita sudah sering mendengar banyak kisah tentang Liu Bei beserta penasihatnya Zhuge Liang dan jenderal-jenderalnya: Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Huang Zhong, dan Ma Chao. Entah kenapa Liu Bei menjadi tokoh protagonis dalam novel Romance of Three Kingdoms sementara Cao Cao yang memegang kekuasaan paling besar pada masa itu malah menjadi tokoh antagonis, sehingga kepahlawanan Cao Cao dan para panglimanya kurang terdengar dibandingkan cerita kecerdikan Zhuge Liang atau kehebatan Guan Yu. Padahal Cao Cao memiliki banyak panglima yang kecerdikan dan kegagahannya tidak kalah dari para panglima Liu Bei. Di bawah ini beberapa panglima Cao Cao yang menurut saya cukup menonjol.

Cao Cao sendiri bisa dikatakan merupakan seorang pahlawan besar pada masanya, “seorang yang cakap di masa damai dan pahlawan di masa kekacauan”. Selain pandai memimpin, Cao Cao pandai dalam mencari orang-orang yang berbakat dan menggunakan bakat mereka secara maksimal. Cao Cao juga seorang yang pintar berstrategi dalam peperangan, dan bijak dalam mendengarkan pendapat dari para penasihatnya. Setelah berhasil menguasai ibukota kekaisaran, Cao Cao mengalahkan pasukan Yuan Shao yang lebih besar dibandingkan pasukannya sendiri. Setelah itu dia mengalahkan pasukan Lu Bu, Liu Biao, dan Ma Chao dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah Cina, walaupun belum berhasil mengalahkan pasukan Sun Quan dan Liu Bei. Sekalipun ambisius, Cao Cao tidak pernah mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar. Anaknya Cao Pi yang menurunkan kaisar sebelumnya dan mengangkat diri sebagai kaisar pertama kerajaan Wei.

Para Penasihat

Xun Yu merupakan salah satu penasihat utama Cao Cao yang sudah mengabdi sejak sebelum Dong Zhuo jatuh. Xun Yu menasihatkan Cao Cao untuk memperkuat pertahanan di wilayahnya sendiri sebelum pergi berperang ke tempat lain. Saat Cao Cao pergi menyerang Tao Qian, beberapa anak buahnya membelot bersama Lu Bu dan menyerang wilayah Cao Cao dari dalam, namun berhasil dipertahankan oleh Xun Yu. Xun Yu juga banyak merekomendasikan orang berbakat ke kubu Cao Cao. Saat Cao Cao menghadapi pasukan Yuan Shao berbulan-bulan dan hampir kehabisan makanan, Xun Yu malah menasihatkan Cao Cao untuk menyerang dan nasihat ini membuahkan kemenangan di pihak Cao Cao. Namun saat beberapa pejabat mengusulkan Cao Cao diangkat sebagai duke dan diberikan penghargaan atas jasa-jasanya, Xun Yu menasihatkan agar Cao Cao menolak dan tetap menjaga kerendahan hati. Karena kejadian itu Cao Cao tidak menyukai Xun Yu dan tidak meminta nasihatnya lagi, sampai Xun Yu mati saking sedihnya (menurut novel dia mati bunuh diri). Setahun setelah kematian Xun Yu di usia 50, Cao Cao diangkat sebagai duke.

Guo Jia bisa dibilang merupakan penasihat strategi Cao Cao yang paling brilian. Tadinya dia mengabdi pada Yuan Shao, tapi akhirnya pindah ke kubu Cao Cao karena merasa bakatnya sia-sia di kubu Yuan Shao. Saat Liu Bei mengungsi kepada Cao Cao, Guo Jia yang mengusulkan agar Liu Bei jangan dibunuh. Bersama Xun Yu, Guo Jia banyak memberikan nasihat dan strategi penting saat Cao Cao berperang melawan Yuan Shao dan Lu Bu. Sayangnya Guo Jia berumur pendek, dia mati saat berusia 38 tahun karena terkena wabah. Saat Cao Cao kalah besar di perang Chi Bi (Red Cliff), Cao Cao mengatakan “Seandainya Guo Jia masih hidup, tentu aku tidak akan kalah seperti ini”.

Jia Xu semula merupakan pegawai pemerintahan di istana. Saat Li Jue menguasai istana, dia memberikan nasihat kepada Li Jue agar membebaskan Kaisar. Setelah memastikan keamanan Kaisar di istana, Jia Xu meninggalkan jabatannya dan pergi mengungsi kepada Zhang Xiu. Saat Cao Cao menyerang wilayah Zhang Xiu, Jia Xu berhasil menipu Cao Cao dengan berpura-pura menyerah kemudian menghancurkan pasukan Cao Cao dan menyebabkan Dian Wei, salah satu jenderal Cao Cao, terbunuh. Saat Cao Cao berperang melawan Yuan Shao, Yuan Shao meminta bantuan kepada Zhang Xiu namun ditolak mentah-mentah oleh Jia Xu. Akhirnya Jia Xu mengusulkan agar Zhang Xiu berpihak kepada Cao Cao. Sejak saat itu Jia Xu menjadi salah satu penasihat Cao Cao. Jia Xu berperan besar dalam mengalahkan pasukan Ma Chao. Saat Cao Cao menyerang Ma Chao, Cao Cao mengalami kekalahan besar sampai nyaris terbunuh. Jia Xu kemudian menjalankan strategi memecah belah musuh dan berhasil mengalahkan pasukan Ma Chao.

Para Jenderal

Cao Ren merupakan saudara sepupu Cao Cao yang mengabdi kepada Cao Cao sejak awal. Dia banyak berjasa dalam hampir semua perang yang dilakukan Cao Cao. Saat perang melawan Wu, Cao Ren menjaga kota Jiangling dari serangan pasukan Zhou Yu. Disebutkan saat salah satu anak buahnya Niu Jin dikepung oleh musuh, Cao Ren membawa beberapa puluh pasukan berkuda dan berhasil menyelamatkan Niu Jin dan sisa pasukannya. Para pasukannya di kota memujinya sebagai “godlike”. Cao Ren dipuji karena keberaniannya dalam peperangan, bahkan dalam situasi sulit saat dikepung musuh pun dia tetap dapat menyemangati pasukannya untuk bertempur sampai mati.

Zhang Liao, semula mengabdi kepada Lu Bu, namun kemudian mengabdi kepada Cao Cao setelah Lu Bu dikalahkan Cao Cao. Zhang Liao berjasa saat peperangan melawan Yuan Tan dan Yuan Shang, anak-anak Yuan Shao, serta memadamkan pemberontakan bangsa Di. Setelah Cao Cao kalah perang di Red Cliff, Zhang Liao beserta Yue Jin dan Li Dian dan 7.000 pasukan ditugaskan mempertahankan kota Hefei dari Sun Quan yang menyerang dengan kekuatan 100.000 pasukan. Zhang Liao membawa 800 pasukan dan pergi mengobrak-abrik pasukan Sun Quan kemudian kembali ke kota. Gara-gara itu moral pasukan Sun Quan jatuh dan setelah 10 hari pun kota tidak berhasil ditaklukkan. Saat hari tuanya Zhang Liao jatuh sakit, namun masih memimpin pasukan menghadapi Sun Quan. Sun Quan sempat berkata “Walaupun Zhang Liao masih sakit, tak ada yang bisa menghentikan dia, berhati-hatilah!”. Zhang Liao mati karena penyakitnya.

Xu Huang merupakan jenderal Cao Cao yang bukan hanya pandai bertempur, tapi juga pandai dalam taktik perang. Saat perang melawan Yuan Shao, Xu Huang berhasil merebut kota Yiyang tanpa pertumpahan darah. Saat mempertahankan kota Hanzhong dari serangan Liu Bei, Xu Huang berhasil melihat taktik musuh yang berencana memotong jalur supply makanan dan menggagalkannya. Xu Huang berjasa besar saat menolong pasukan Cao Ren yang sedang dikepung oleh pasukan Guan Yu di kota Fancheng, bahkan berhasil memukul mundur Guan Yu dan pasukannya dengan taktik memotong supply makanan.

Zhang He semula merupakan jenderal Yuan Shao, namun membelot ke Cao Cao. Dia ikut serta dalam perang menghadapi pemberontakan bangsa Di, Ma Chao, Zhang Lu, juga saat mempertahankan Hanzhong dari serangan Liu Bei. Setelah Cao Cao mati dan digantikan oleh Cao Pi, Zhang He berkali-kali mematahkan serangan dari Shu yang dipimpin oleh Zhuge Liang, namun akhirnya mati terkena panah saat mengejar musuh yang sedang kabur.

Advertisements
This entry was posted in Romance of Three Kingdoms and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Romance of Three Kingdoms: para panglima Cao Cao

  1. Inas Luthfi says:

    Cao-Cao! belum baca secara mendetail novel aslinya sih, tapi memang ROTK (Romance of Three Kingdoms) benar-benar seperti romansa di zaman peperangan di Cina kuno dulu. Keren deh. Dari Film Red Cliff (perang Chi Bi) juga keliatan betapa kolosal perangnya.

  2. Captain_kurO says:

    gw dari tahun lalu berniat baca novel ROTK (ada yg bikin versi inggris dalam format HTML) ga selesai2. Ngantuk…

  3. Muliawan Prabawa says:

    Jangan lupa.. Jenderal besar Cao Cao lainnya adalah Xu Zhu dan Xiahou Dun juga.. Mereka adalah jenderal yang sangat loyal kepada Cao Cao.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s