Posts tagged ‘Pemilu’
JK – Wiranto Akhirnya Maju
Pemilu 2009 ini memang agak aneh, perhitungan suara aja belum selesai (baru 47 juta suara), partai-partai udah pada berkoalisi sana-sini dan mengajukan calon presiden. (atau memang dari dulu juga pemilu udah kayak begitu? Karena ini pemilu pertama saya, maaf kalau saya yang kuper) Gimana jadinya kalau setelah koalisi dibentuk, capres dan cawapres udah ditunjuk, eh perolehan suaranya malah ga sampai target. Ga ngerti deh.
Pasangan pertama yang sudah dipastikan maju adalah JK-Wiranto. Pasangan ini bisa dibilang cukup aneh karena Wiranto adalah mantan “barisan sakit hati” partai Golkar yang 5 tahun lalu mengajukan diri sebagai capres dari Golkar tapi kalah oleh JK yang mengajukan diri jadi cawapres SBY.
Tadi sekilas saya melihat acara wawancara JK-Wiranto di Metro TV. Pewawancara dari Metro TV memang cukup “pedas” dan “galak”, terus mencoba memanas-manasi perbedaan kedua bapak ini. Berikut cuplikan wawancara berdasarkan versi yang masih saya ingat. (pasti banyak yang salah, jadi CMIIW)
Metro: Bagaimana Bapak Wiranto bisa menjadi pasangan Pak Jusuf Kalla? Bukankah Bapak bisa dibilang termasuk “golongan oposisi” yang menentang pemerintahan yang sedang berjalan? Saya masih ingat spanduk-spanduk Bapak pada masa kampanye yang mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah
(Copas) Ekstravaganza ‘TV Pool’ Pidato SBY
Belakangan ini banyak isu-isu tidak sedap seputar partai Demokrat dan presiden SBY, terutama menyangkut pelaksanaan pemilu yang bisa dibilang amburadul. Berikut sebuah tulisan mengenai pidato presiden SBY di tv-tv nasional hari Kamis kemarin.
(diambil dari jakartabeat.net)
Oleh: Dandhy D Laksono, freelance journalist
Sekitar pukul sebelas malam (Kamis, 16 April 2009), RCTI menyiarkan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berdurasi 20-an menit dalam program bertajuk “Presiden Bicara”. Isinya klarifikasi SBY sebagai Kepala Negara atas tudingan berbagai pihak bahwa rezimnya telah bertindak curang dalam pemilihan umum legislatif, 9 April lalu.
Dalam pidato itu, SBY juga membabat habis argumen para lawan politiknya yang menuding pemerintah berada di balik kacaunya Daftar Pemilih Tetap (DPT). Juga mematahkan tudingan bahwa Pemilu 2009 adalah pemilu terburuk setelah reformasi.
Di saat yang nyaris bersamaan, ternyata hampir semua stasiun televisi seperti TPI, Trans TV, ANTV, Indosiar, dan TV One juga menayangkan pidato yang direkam di Istana Negara siang harinya itu. TPI—satu grup dengan RCTI di bawah bendera MNC—bahkan mengemasnya dalam “Breaking News”.
Breaking news atau di media cetak dikenal dengan stop press biasanya dipakai untuk jenis berita yang benar-benar mendesak untuk disiarkan. Misalnya, malam itu Presiden SBY mengumumkan penurunan harga BBM saat TPI sedang memutar sinetron, maka bisa saja program itu dihentikan untuk menyiarkan hal itu. Atau ada bencana besar seperti gempa bumi dan tsunami.
Karena itu, sulit membayangkan mengapa redaksi TPI masih nekat menggunakan breaking news untuk sebuah pidato yang sudah disiarkan televisi lain sekitar lima jam sebelumnya.
Stasiun televisi lain yang dimaksud adalah SCTV. Stasiun milik keluarga pengusaha Sariaatmadja itu sudah menayangkan pidato SBY sejak sore di program Liputan 6 Petang, jam 17.30 – 18.00 WIB. Program berita yang durasinya hanya 30 menit itu didominasi pidato SBY sehingga hanya tersisa 1-2 item berita saja setelah adzan maghrib.
Usut punya usut ternyata tim SCTV-lah yang merekam pidato itu, dan hasil rekamannya dibagi-bagikan kepada ruang redaksi televisi lain. Komposisi kamera yang seragam setidaknya menguatkan hal ini.
Singkat kata, fenomena ini seperti TV pool di mana semua saluran televisi telestrial menyiarkan program yang sama di waktu yang hampir bersamaan. Secara teori, TV pool hanya bisa digerakkan oleh dua hal saja: pemasang iklan komersial dan alasan sosiologis-politis.
Saat Tien Soeharto meninggal pada April 1996, misalnya, semua televisi terkena “wajib relay”. Pusat kontrol siaran saat itu berada di RCTI, langsung di bawah pengawasan pengusaha Peter Gontha.
TV pool memang memerlukan koordinasi terpusat. Di masa Orde Baru barangkali tidak sulit mengorganisasi TV pool karena pemiliknya relatif sama: keluarga dan kroni Cendana.
Tapi kini tentu tingkat kesulitan politisnya lebih tinggi. Dibutuhkan sebuah super-body untuk bisa menggerakkan ruang-ruang redaksi televisi yang pemiliknya sudah relatif beragam ini. Dibutuhkan invisible hand yang mampu meng-gerilya para pengambil kebijakan di redaksi agar menyediakan durasi yang mahal itu, untuk memutar 20 menit pidato SBY.
Dalam struktur televisi, pemimpin redaksi tidak punya otoritas untuk menghentikan tayangan sinetron tanpa persetujuan direktur progam atau direktur utama, betapa pun informasi itu memiliki nilai berita tinggi. Karena itu, bisa dipastikan bahwa penayangan pidato SBY secara serentak Kamis malam, digerakkan oleh instruksi yang datangnya dari otoritas yang lebih tinggi. Dalam kalimat langsung: para pemilik televisi lah yang mengotorisasi tayangan tersebut.
Apakah para pemilik televisi membuat konsensus atau hanya menjalankan perintah top down dari Istana? Itulah yang mesti dicari tahu.
Apa Salahnya ‘TV Pool’?
Mungkin pemilu presiden nanti perlu dipertimbangkan baik-baik…
Hari H Pemilu, Bandung Sepi
Tanggal 9 April kemarin hari pemilu, Bandung jadi sepi bukan main. Jalan kecil di depan rumah yang biasa dilewatin mobil, motor, sama angkot yang motong jalan, tiba-tiba jadi sepi lenggang, satu motor pun ga ada. Waktu keluar rumah naek motor, wah damai sekali. Jalanan sepi, ga ada orang yang nyeberang, angin sepoi-sepoi bikin ngantuk aja. Naik motor juga jadi santai, kalem, ga kayak hari biasa yg mesti salip sana salip sini lantaran jalannya kepenuhan sama mobil.
Coba aja tiap hari Bandung kayak gini, enak rasanya. Cuma downsidenya bisa-bisa tiap hari makin telat kuliah gara-gara terlalu nyantai he..
Komentar Terakhir